“ANGER ICEBERG: WHY BE ANGRY?”

 

  

Seringkali kita mengatakan bahwa kita sedang marah, entah itu terhadap pasangan, teman, keluarga, ataupun orang sekitar lainnya. Terkadang kita juga bingung ketika melihat orang disekitar kita marah tanpa alasan, apalagi kalo tiba-tiba cemberut. Kalau gitu, apa kita sendiri sudah betul paham alasan dasar dibalik marah tersebut? atau ketika diminta menjelaskan kenapa kita marah, kita justru kebingungan harus mengkomunikasikan seperti apa?

Tidak apa-apa merasakan itu, karena itu adalah hal yang wajar. Seringkali marah bukan hanya menjadi akibat dari permasalahan, tapi juga sebab dari permasalahan. Jadi, sangat disayangkan jika hanya karna marah hubungan kita dengan orang sekitar menjadi bermasalah.

Lalu, apakah artinya kita tidak boleh marah? Sebelumnya cari tau dulu yuk apa itu marah.

Pengertian Marah

Seorang Psikolog Daniel Goleman, menjelaskan bahwa pada prinsipnya emosi dasar manusia meliputi takut, marah, sedih dan senang. Emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan marah dapat didefinsikan sebagai satu emosi yang terpicu oleh situasi sosial yang mengancam atau membuat frustrasi. Jadi, sudah jelas ya bahwa emosi itu memegang peran penting dalam kehidupan manusia.

Bentuk Marah

Ekspresi marah dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk :

1. Anger-in (marah yang diarahkan ke dalam) : Ini adalah bentuk ekspresi kemarahan berupa penekanan emosi. Terdapat keengganan untuk menunjukkan kemarahan dan lebih memilih untuk mengembalikan kemarahan tersebut ke dalam diri. Sebagai hasilnya, kemarahan menjadi terinternalisasi.

2. Anger-out (marah yang diarahkan ke luar) : Dapat berupa kata-kata (berteriak, memanggil dengan nama yang tidak patut), ekspresi wajah (wajah cemberut), gestur fisik (menghentakkan kaki), atau gerakan agresif (memukul, menendang).

3. Anger control atau reflection : Keadaan marah yang disertai upaya untuk memproses atau menyelesaikan konflik atau frustrasi dengan respons yang lebih bersifat kognitif dan kurang impulsive.

Kalo teman-teman team yang mana nih?

Apa yang Terjadi Saat Kita Marah?

Ketika marah terjadi, tubuh langsung mengalami serangkaian reaksi yang melibatkan hormone, system saraf dan otot. Tubuh melepaskan adrenalin yang membuat nafas sesak, kulit memerah, otot tegang, rahang mengencang, termasuk perut, bahu dan tangan. Seseorang dikatakan berhenti marah ketika ciri-ciri ini sudah tidak muncul (Novaco, 2000). Seringkali marah adalah suatu pola perilaku yang dirancang untuk mengingatkan pengganggu untuk menghentikan perilaku mengancam mereka. Alih-alih ingin membuat mereka paham, kita justru menimbulkan masalah baru karna tidak bisa mengkomunikasikan alasan dari marah tersebut.

Mengapa Kita Bisa Marah dan Cara Mengatasinya

Selama masa pandemi ini apa teman-teman merasa lebih sensitive? cepat marah bahkan untuk hal terkecil sekalipun, seperti tidak bisa pergi ke suatu tempat, tidak bisa berkumpul dengan keluarga, dll. Karna manusia itu unik, jadi setiap individu pasti berbeda dalam merespon suatu hal. Oleh karna itu, sebab mengapa kita marah dapat beraneka ragam.

Nah, untuk membantu memahami sebenarnya kenapa sampai marah, kita bisa mulai belajar dari Iceberg of Anger atau mungkin teman-teman pernah mendengar tentang gunung es kemarahan.

Iceberg of Anger ini dikembangkan oleh seorang psikolog Ashley Lipman. Maknanya terletak pada bagian puncak yang merupakan bagian kecil, dapat terlihat oleh orang lain. Bagian yang tampak di permukaan ini pada dasarnya adalah gejala atau symptom. Bagian bawah meliputi hampir 90% merupakan sisi yang tidak terlihat, berisi emosi-emosi yang mendasar. Sudut pandang ini memunculkan pemahaman bahwa umumnya gunung es kemarahan melibatkan juga perasaan lainnya, seperti takut, tidak aman, tersakiti, harga diri yang disakiti, perasaan tidak dihargai, dan berbagai macam emosi lainnya.
Sehingga, kemarahan hanyalah puncak dari banyak perasaan yang mendasari dan terkait. Jadi, yuk mulai sekarang kita belajar untuk menilai apa yang menjadi penyebab rasa marah kita, dengan begitu kita jadi lebih mudah untuk mengkomunikasikannya dan akhirnya bisa menghindari salah paham dengan orang lain. 

Cara Mengekspresikan Marah

Cara-cara yang biasa digunakan dalam mengekspresikan rasa marah (Goleman, 1997) adalah sebagai berikut:

a. Repression: Mengalami perasaan marah tetapi segera melupakan perasaan marahnya.

b. Displacement: Memiliki perasaan marah terhadap seseorang atau benda yang sebenarnya bukan orang atau benda tersebut target dari amarahnya.

c. Controlling: Menahan dan mengendalikan secara emosional badai amarah yang sedang berlangsung dalam dirinya.

d. Suppression: Mengalami perasaan marah tetapi dipendam, sehingga tidak ada pengekspresian marah tersebut.

e. Quiet Crying: Penekanan perasaan marah dengan tanpa proses verbal atau fisik. Cara ini dapat meredakan emosi amarah dan mengubahnya menjadi kesedihan dan perasaan sakit dalam diri orang tersebut.

f. Assertive Confrontation: Suatu respon langsung yang tegas terhadap seseorang atau benda yang membuat atau membangkit amarah.

g. Overreaction: Merusak atau menyakiti secara fisik suatu benda atau seseorang yang sebenarnya benda atau orang tersebut bukan sasaran amarah yang sesungguhnya.

Efek dari marah yang tidak terkendali

Ahli psikologi menunjukkan bahwa orang yang marah sangat mungkin melakukan kesalahan karena kemarahan menyebabkan kehilangan kemampuan pengendalian diri dan penilaian objektif (Raymond, 2000). Jadi, ga harus marah-marah di telfon atau langsung ya, karna sering kali saat kita marah ucapan tidak sesuai dengan apa yang ssbenarnya dirasakan, Akhirnya tidak fokus untuk menyelesaikan. Lebih baik ambil jeda sejenak lalu kontrol diri dan perasaan. 

Walaupun praktiknya tidak mudah dan pastinya membutuhkan proses, tetapi teman-teman bisa mulai dari hal-hal terkecil.

Nah sekarang jadi tau kan kalo marah adalah reaksi yang normal dalam kehidupan sehari-hari. Marah ini memberikan sinyal peringatan kepada otak bahwa ada sesuatu yang salah dan memberikan energi pada tubuh untuk memperbaiki keadaan. Terkadang cara kita mengekspresikan marah dapat memberikan efek yang positif maupun negatif pada orang lain. Jadi, bukan berarti tidak boleh marah ya. Hanya saja rasa marah tersebut harus dikelola dengan baik.


“What we see is only a small part of reality, so train yourself to learn to understand yourself and others” -Sya

Komentar