“Forgiveness: Strengths or Weaknesses?”
Sebagaimana kita tau bahwa manusia adalah mahluk sosial, yang mana membutuhkan orang lain selama kehidupannya. Selama proses kehidupan ini pastinya ga selalu dalam situasi yang baik, adakalanya kita juga ada dalam posisi tidak baik. Contoh, seberapa sayang kita sama orang tua, pasangan, teman, pasti ada satu atau bahkan beberapa kesalahan yang pernah mereka lakukan sampai akhirnya membuat kita merasa kesal, sedih, marah, dan kecewa. Atau bisa juga nih ada kesalahan kita yang ngebuat orang lain merasakan hal yang sama itu, alhasil hubungannya jadi ga baik. Untuk mengatasi hal itu, sebagian orang ada yang memilih memaafkan, memendam (bertahan dalam perasaan tidak nyaman tersebut), atau bahkan benci sampai memilih untuk balas dendam. Kalo temen-temen sendiri team yang mana nih?
Kira-kira quotes seperti itu yang sering kita dengar, tapi memaafkan ini sebenernya seperti apa ya?
Pengertian Memaafkan
Menurut konsep psikologi positif, dalam memaafkan menekankan pada kekuatan positif yang ada dalam diri manusia. Artinya memaafkan merupakan pusat untuk mengembangkan manusia yang sehat dan hal yang paling penting adalah pemulihan hubungan interpersonal antara individu setelah terjadinya konflik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata memaafkan adalah memberi ampun atas kesalahan dan sebagainya. Arti lainnya dari memaafkan adalah tidak menganggap salah. Brandsma (1982) pengampunan sebagai penguasaan terhadap pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang negatif, tanpa mengabaikan yang terluka atau marah, tetapi memandang orang yang melakukan kesalahan dengan penuh penerimaan sehingga si pemberi ampun dapat disembuhkan.
Jadi, pengampunan atau pemaafan dapat didefinisikan sebagai proses coping individu yang dapat menerima dan mengatasi emosi negatif dan menggantinya dengan keinginan yang kuat untuk mencari sesuatu yang bermakna, seperti misalnya kedamaian hati.
Menurut Gani (2011), tidak memaafkan berdampak memiliki gejala tekanan darah tinggi, stres, kemarahan mudah terpicu, tekanan jantung meninggi, menunjukkan gejala depresi, menunjukkan gejala kecemasan, merasa nyeri akut pada tubuh, hubungan dengan orang lain kurang akrab, sukar menjalin persahabatan, merasa diri hampa, dan tendensi pelarian pada minuman beralkohol dan obat-obatan.
Yang jelas, apabila kita memilih untuk memaafkan maka kedamaian hati akan didapat.
Langkah Memaafkan
Mawan (2009) dalam perspektif teologis menguraikan tiga tahapan dalam proses memaafkan, yaitu:
- Mengingat Kembali Pengalaman Terluka : Mengingat apa yang melukai kita tentunya akan membuat sedih, karena satu sisi kita telah berusaha untuk mengabaikan, menolak, menyangkal, atau menutupi perasaan akibat peristiwa yang menyakitkan. Tetapi, dengan mengingat kembali atau recall, kita dilatih tidak lagi menyangkal luka yang dialami melaikan menerima kesedihan dan berusaha pulih melalui perasaan tersebut.
- Mengartikan / Memaknai Ulang Luka : Saat marah seringkali kita melihat situasi hanya menggunakan sudut pandang kita sebagai orang yang terlukai. Hal ini wajar karena saat seseorang terluka maka ia dapat menggunakan pikiran untuk merespon perasaan tersebut. Namun, kita perlu menyadari bahwa Tuhan telah memberikan pikiran, kehendak dan emosi. Tidak ada suatu apapun yang kebetulan, selalu ada alasan dari setiap hal yang kita lewati. Dengan menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang sempurna tanpa berbuat kesalahan atau tidak semua hal ada dalam kehendak kita, maka akan membuat kita memiliki persepsi yang lebih baik, terutama kepada pelaku.
- Melepaskan Rasa Marah: Salah satu cara untuk terlepas dari kemarahan adalah dengan mengakuinya. Mengakui bahwa kemarahan adalah perasaan yang tidak nyaman untuk setiap orang dan sakit hati adalah perasaan yang wajar. Mengakui kepada diri kita sendiri, kepada orang yang telah kita lukai, dan kepada Tuhan. Mengakui kepada Tuhan adalah langkah awal untuk memperoleh kekuatan, agar dapat melepaskan kemarahan dengan benar. Sehingga diri kita tidak berniat untuk membalasa dendam.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemaafan
- Faktor Religiusitas (semakin tinggi religiusitas, semakin tinggi potensi pemaafan).
- Tingkat Penyesalan: Tingkat penyesalan bisa jadi menjadi sebuah faktor kemauan seseorang untuk memaafkan. Teringat dampak negatif ketika kita tidak memaafkan dapat menjadi sebuah pertimbangan.
- Kepribadian: Berdasarkan teori McCullough, dkk (1998), Individu dengan Honest Humility atau sama dengan ekstrovert dalam struktur kepribadian HEXACO personality yang memiliki sifat tulus, jujur, setia/loyal, sederhana, berpikiran adil dan tulus, akan lebih mudah memaafkan. Dalam Islam, individu yang mudah memaafkan memiliki kepribadian rendah hati (tawadhu).
- Kualitas hubungan interpersonal: Seberapa kuat komitmen individu pada relasi mereka, akan memudahkan mereka untuk memilih memaafkan. Misalnya pasangan yang mau memaafkan pada dasarnya mempunyai motivasi yang tinggi untuk menjaga hubungan.
Kesimpulannya, memaafkan itu bukan bentuk kelemahan melainkan sebuah proses. Jadi, untuk temen-temen yang sekarang sedang marah atau memilih memaafkan untuk menutupi kemarahan, it’s ok, take your time sampai bisa disadari dan diterima sebagai langkah perubahan yang positif. Meskipun memaafkan tidak mudah, bukan berarti pemaafan adalah hal yang mustahil dilakukan. Sulit ya, tetapi mustahil tidak.
Sumber:
Alentina, C. (2016). MEMAAFKAN (FORGIVENESS) DALAM
KONFLIK HUBUNGAN PERSAHABATAN. Jurnal Psikologi, 168-174. Diakses pada
12 Juni 2022
Azra, F. N. (2017). Forgiveness dan
Subjective Well-Being Dewasa Awal Atas Perceraian Orang Tua Pada Masa Remaja
. Psikoborneo, 294-302. Diakses pada 12 Juni 2022
Khasan, M. (2017). PERSPEKTIF ISLAM
DAN PSIKOLOGI TENTANG PEMAAFAN. Jurnal at-Taqaddum, 69-94. Diakses
pada 12 Juni 2022
Siregar, C. (2012). MENYEMBUHKAN
LUKA BATIN DENGAN MEMAAFKAN. HUMANIORA, 581-592. Diakses pada 14 Juni
2022
Ulin Nihayah, S. A. (2021). Konsep
Memaafkan dalam Psikologi Positif. Indonesian Journal of Counseling and
Development, 108-119. doi:: https://doi.org/10.32939/ijcd.v3i1.1031
Diakses pada 12 Juni 2022
Yogi Kusprayogi, F. N. (2016). Kerendahhatian
dan Pemaafan pada Mahasiswa . PSIKOHUMANIORA: Jurnal Penelitian Psikologi,
12-29. Diakses pada 12 Juni 2022

Komentar
Posting Komentar